Tuesday, February 2, 2010
Gepuk Santan
Vanilla Bubble Tea
Resep Masakan Pilitode
Resep Masakan Tahu Telur
Monday, February 1, 2010
Menu Favorit Keluarga Praktis, Lezat dan Sehat

Bagi para ibu bekerja, menyiapkan menu keluarga diperlukan kiat khusus untuk mensiasati keterbatasan waktu. Diperlukan menu yang praktis dan tentu disukai keluarga agar makanan yang disajikan disukai seluruh anggota keluarga.
Buku ini bisa menjadi panduan para ibu dalam menyusun menu keluarga yang praktis, sehat dan lezat. Di dalamnya memuat aneka resep olahan ayam, daging, telur, seafood, ikan, sayuran dan olahan pelengkap seperti tahu dan tempe.
Susunan resep dibuat dengan bahasa yang runtut dan mudah dipahami, pemilihan bahannya sederhana dan tentu saja proses pembuatan yang praktis, cocok untuk ibu pekerja. Setiap resep disertai tip anti gaglal dan telah lolos dapur uji sehingga terjamin keakuratannya.
Bentuk buku dibuat khusus dengan jilid kawat roll sehingga dapat digantung pada dinding dapur. Kertas dibuat tebal dan khusus agar tidak mudah rusak terkena minyak atau air.
Judul: Menu Keluarga Favorit & Lezat
Penyusun: Budi Sutomo
Harga: Rp. 35.000
Informasi & Pemesanan: 021-8712219 / 021- 8729059/021 4204402
E-Mail: swara@cbn.net.id
WAYANG KULIT
Berikut ini adalah penjelasan Gunungan oleh Drs. R. Soetarno AK, Ensiklopedia Wayang, Dahara Prize, Cetakan Keempat, 1994.
Gunungan adalah wayang berbentuk gambar gunung beserta isinya. Di bawahnya terdapat gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang memegang pedang dan perisai. Itu melambangkan pintu gerbang istana , dan pada waktu dimainkan gunungan dipergunakan sebagai istana. Di sebelah atas gunung terdapat pohon kayu yang dibelit oleh seekor ular naga.
Dalam gunungan tersebut terdapat juga gambar berbagai binatang hutan. Gambar secara keseluruhan menggambarkan keadaan di dalam hutan belantara.
Gunungan melambangkan keadaan dunia beserta isinya. Sebelum wayang dimainkan, Gunungan ditancapkan di tengah-tengah layar, condong sedikit ke kanan yang berarti bahwa lakon wayang belum dimulai, bagaikan dunia yang belum beriwayat. Setelah dimainkan, Gunungan dicabut, dijajarkan di sebelah kanan.
Gunungan dipakai juga sebagai tanda akan bergantinya lakon/tahapan cerita. Untuk itu gunungan ditancapkan di tengah-tengah condong ke kiri. Selain itu Gunungan digunakan juga untuk melambangkan api atau angin. Dalam hal ini Gunungan dibalik, di sebaliknya hanya terdapat cat merah-merah, dan warna inilah yang melambangkan api.
Gunungan juga dipergunakan untuk melambangkan hutan rimba, dan dimainkan pada waktu adegan rampogan, tentara yang siap siaga dengan bermacam senjata. Dalam hal ini Gunungan bisa berperan sebagai tanah, hutan rimba, jalanan dan sebagainya, yakni mengikuti dialog dari Dalang. Setelah lakon selesai, Gunungan ditancapkan lagi di tengah-tengah layar, melambangkan bahwa cerita sudah tamat.
Gunungan ada dua macam, yaitu Gunungan Gapuran dan Gunungan Blumbangan. Gunungan Blumbangan digubah oleh Sunan Kalijaga dalam zaman Kerajaan Demak. Kemudia pada zaman Kartasura digubah lagi dengan adanya Gunungan Gapuran. Gunungan dalam istilah pewayangan disebut Kayon. Kayon berasal dari kata Kayun. Gunungan mengandung ajaran filsafat yang tinggi, yaitu ajaran mengenai kebijaksanaan. Semua itu mengandung makna bahwa lakon dalam wayang berisikan pelajaran yang tinggi nilainya. Hal ini berarti bahwa pertunjukan wayang juga berisi pertunjukan wayang juga berisi ajaran filsafat yang tinggi.
- Sang Hyang Adhama
- Sang Hyang Sita
- Sang Hyang Nurcahya
- Sang Hyang Nurrasa
- Sang Hyang Wenang
- Sang Hyang Tunggal
- Sang Hyang Rancasan
- Sang Hyang Ismaya
- Sang Hyang Manikmaya
- Batara Bayu
- Batara Brahma
- Batara Chandra
- Batara Guru
- Batara Indra
- Batara Kala
- Batara Kresna
- Batara Kamajaya
- Batara Narada
- Batara Surya
- Batara Wisnu
- Batara Yamadipati
- Betari Durga
- Batara Kuwera
- Batara Cingkarabala
- Batara Balaupata
- Hyang Patuk
- Hyamh Temboro